Gemini Mei, Gemini Juni

on . Posted in Refleksi

Wahai engkau sang Gemini dua puluh empat Mei :)

Kau pernah berucap bahwa kau mau surat. Surat dariku untukmu. Seperti waktu itu kau mendambakan kartupos paling rupawan dari Taiwan. Telah ku kabulkan, bukan? Betapa gagah pintamu, sebanding dengan betapa gigih upayaku. Begitulah Gemini. Sekali mengingini, sulit berhenti.

Kini, aku hendak mengikuti informasi termutakhir apa yang ingin kau bagi. Adakah kau sedang melayani tamu-tamu yang katamu datang tanpa henti? Ataukah sekarang kau tengah mendapat rehat? Aku mahfum, memang pekerjaanmu mensyaratkan limpahan aksi maklum. Agar kau tak merasa terhukum.

Ayo, sejenak kita mengaso. Gemini suka sekali bersantai, tho?

Ingatkah kau, saat hayat kita berdenyut di suatu tempat yang disebut Banyuurip? Satu pelosok tanpa listrik dipasok. Sebuah dusun yang jalannya berbatu cerun. Pedalaman syahdu yang mempersatukan kau dan aku. Kau bisa mengawasi aku berkemas-kemas. Kau bisa mendengar aku mendengkur. Kau bisa tertawa puas ketika aku buang air besar sambil dikejar hewan buas :(

Di Banyuurip pula kita bisa mandi di kali ala bidadari. Kau terperosok selagi mengawaniku pergi ke kali. Ah, aku tak perlu mengolok. Sesama gemini, tak baik kalau mengata-ngatai. Lama-lama pedih di hati dan perih di budi.

Oiya, bersama-sama kita minum kopi hitam yang ampasnya membekas di gigi. Kita menyantap sayur yang pedasnya menyengat. Juga, jajanan jemblem yang membuat pipi kita makin tembem. Lantas, kita melibas hutan hijau berbukit-bukit untuk menjangkau pantai legit dan genit.

Rindu hal-hal begitu, setuju? Gemini memang sering kali jatuh rindu pada yang sudah berlalu.

Usai Banyuurip tahun dua ribu empat, kita sepakat untuk tetap berserikat. Namun, baru tahun dua ribu sembilan kita bisa liburan. Bukan sembarang liburan. Kita memadukan senang-senang dan sembahyang. Rosario artistik, skapulir cantik, kitab kudus, dan salib Kristus adalah bekal kita selama di Tumpang.

Tumpang, tempat di mana kau dengan gampang memandangku gamblang. Kita ingin selalu berpeluk karena udaranya yang terlalu sejuk. Tapi, tak bisa. Agenda kita sangat padat. Kita tak boleh terlambat karena akan jadi penghambat. Kita harus terus bersemangat karena atmosfernya sungguh nikmat. Teh manis pelukis kehangatan. Lagu penghapus ragu. Kebersamaan pembangkit kekuatan.

Tujuh hari di Tumpang rasanya kurang. Masih banyak harapan yang hendak kita alirkan di tangan Tuhan. Masih banyak kegelisahan yang hendak kita tuturkan dalam doa permohonan. Masih banyak sabda suci yang hendak kita renungi. Masih banyak lilin mini yang hendak kita terangi dengan api. Masih banyak hati yang hendak kita bagi. Masih banyak cerita yang hendak kita cipta.

Liburan telah lama berakhir, namun kenangan kita masih tetap terukir. Gemini tak terbiasa mangkir dari memori-memori damai maupun getir. Semua tersimpan rapi. Sewaktu-waktu bisa membuat sadar diri tanpa ada keinginan berlari. Sebab kita percaya, semua sanggup dihadapi.

Nah, jangan lupakan, kita juga pernah sekali memperingati hari Gemini. Kau, gemini yang lahir di bulan Mei. Dan aku, gemini yang lahir di bulan Juni. Tahun dua ribu sembilan kita memanfaatkan koran sebagai pakaian kebangsaan Gemini dalam suatu perjamuan yang berkesan. Kala itu, kita sama-sama bermimpi mempunyai seorang pujaan hati. Hingga kini, kita sama-sama belum ada yang memiliki. Memang cinta sejati belum menghampiri.

Yakinkan dengan iman. Semua pasti terkendali oleh Sang Abadi. Tak usah resah ataupun lelah. Bolehlah menangis, namun jangan sampai terkikis habis. Karena kita adalah Gemini. Si gemulai yang berani. Si gempita dalam nurani. Si gembira tapi dingin. Si gemar merencana nan sulit menjalani. Si menggemaskan dan selalu diingini. Itulah Gemini.

Namamu Claretta, namaku Klara. Nama kita sama-sama berarti terang. Lawanlah kegelapan dengan benderang. Berkolaborasilah dengan bintang-bintang agar kesuraman lenyap.

Selamat bersinar, wahai saudari satu rasi.

Salam kangen dari si Gemini dua Juni